Menyambut Idul Fitri 1430 H

Assalamu’alaikum wr wb

gARis ITB mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H.

Semoga setiap amalan yang kita lakukan selama ini dinilai oleh Allah Sebagai amal shalih yang berlipat-lipat ganda pahalanya. Amin…
Semoga kita semua bisa menjadi lebih baik dalam menghadapi kesebelas bulan lainnya, juga dalam rangka menyiapkan Ramadhan selanjutnya. Amin…
Semoga kita semua bisa dipertemukan oleh Allah dengan Ramadhan selanjutnya. Amin…

gARis juga mengajak temen-temen semua untuk saling memaafkan kesalahan temen-temen yang lain untuk perbuatannya, ucapanannya, sangkaannya. baik yang besar, yang kecil, yang sengaja, yang tidak disengaja, yang lalu, maupun yang akan datang.

-Sektor Syi’ar gARis ITB 2009-

MAKNA IDUL FITRI

Dalam sebuah artikel di assunnah.or.id, dijelaskan bahwa makna dari Idul Fithri yang bener bukanlah “KEMBALI SUCI” *seperti yang kebanyakan orang pahami saat ini* melainkan “KEMBALI BERBUKA”.

Menurut lughoh/bahasa bahwa lafadz FITHRI yang memiliki susunan huruf FA-THAA-dan RA berasal dari kata FITHRU/ IFTHAAR yang artinya BERBUKA (yakni berbuka puasa jika terkait dengan puasa). Bukan FITHRAH yang tulisannya FA-THAA-RA-dan TA MARBUTHOH *yang berarti SUCI*

Adapun menurut Syara’ telah datang hadits yang menerangkan bahwa IDUL FITHRI itu ialah HARI RAYA KITA KEMBALI BERBUKA PUASA:
“Dari Abi Hurairah (ia berkata), sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fithri itu ialah pada hari KAMU BERBUKA. Dan (Idul) Adha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan korban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan.” SHAHIH. Lafadz ini dari riwayat Tirmidzi No. 693.

Namun juga dikeluarkan oleh Imam-imam dengan jalan dari Abi Hurairah:
1. Imam Ad-Daruquthni, lafadznya: “Puasa kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berpuasa, dan (Idul) Fithri kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka.”
2. Dalam lafadz Imam Ibnu Majah No. 1660: “(Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka, dan (Idul) Adha pada hari kamu menyembelih hewan.”
3. Dan dalam lafadz Imam Abu Dawud No. 2324: “Dan (Idul) Fithri kamu itu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka sedangkan (Idul) Adha ialah pada hari kamu (semuanya) menyembelih hewan.”
*keterangan tentang sanadnya terdapat di kitab “Riyadlul Jannah” No. 721 karya Abdul Hakim bin Amir Abdat (penulis asli artikel ini – ed)*

Hadits di atas dengan beberapa lafadznya tegas-tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa (tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa). Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya, sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat ‘Id. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama.
Jadi, artinya bukan “kembali kepada fithrah”, karena kalau demikian niscaya terjemahan hadits menjadi : “Al-Fithru/suci itu ialah pada hari kamu bersuci” tapi tidak demikian, melainkan HARI RAYA BERBUKA PUASA. Yakni kita kembali berbuka (tidak puasa lagi) setelah sebulan kita berpuasa.

Adapun makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa puasa itu ialah pada hari kamu semuanya berpuasa, demikian juga Idul Fithri dan Adha, maksudnya : Waktu puasa, Idul Fithri dan Idul Adha, kamu bersama-sama dengan kaum muslimin (berjama’ah), tidak sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok sehingga berpecah belah sesama kaum muslimin.

Imam Tirmidzi mengatakan—dalam menafsirkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas—sebagian ahli ilmu telah menafsirkan hadits ini yang maknanya: “Bahwa shaum/puasa dan (Idul) Fithri itu bersama jama’ah dan bersama-sama orang banyak”

gARis PROUDLY PRESENT: Islamic Architect Institute (IAI)
Pendaftaran masih dibuka sampai akhir bulan September.
cowo hub PH 081311158182, cewe hub Nisa 08158017052
Terbuka untuk AR 2006, 2007, 2008.

UCAPAN IDUL FITRI

Seorang sahabat pernah menegur saya beberapa tahun yang lalu, kata beliau, kalimat “Minal Aidin wal Faidzin” tuh ga dicontohin ama Nabi Muhammad SAW. Deng! Saya beneran kaget, tapi setelah dicek ternyata emang bener (kalo diucapin doang sih ga masalah, hanya saja ga ‘nyunnah’ ^^). Kita simak hadits berikut:

Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul-Bari 2/310 mengatakan : “Kami meriwayatkan dari guru-guru kami dalam Al-Mahamiliyyat dengan sanad hasan dari Jubair bin Nufair, beliau berkata : Para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila mereka saling jumpa pada hari raya, sebagian mereka mengucapkan pada lainnya : ‘Taqabbalalloohu minnaa wa minka.’”

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Al-Mughni 2/259 menyebutkan : “Bahwasannya Muhammad bin Ziyad pernah berkata : Aku pernah bersama Abu Umamah Al-Bahily dan selainnya dari kalangan shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam; apabila mereka kembali dari ‘Ied, sebagian mereka mengucapkan kepada sebagian yang lain : ‘Taqabbalalloohu minnaa wa minka.’”
Imam Ahmad berkata : Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus).

Arti dari ‘Taqabbalallahu minna wa minka’ adalah Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.

MERAYAKAN IDUL FITRI

Islam mengajarkan dua hal dalam menyatakan kegembiraan ini, yaitu :
1. Menguatkan hubungan yang bersifat vertikal, yaitu dengan Allah sang Pencipta sebagai tanda syukur.
2. Menguatkan hubungan yang bersifat horisontal, antara sesama makhluk, khususnya sesama manusia.

Menguatkan hubungan vertikal ini dapat dilakukan dengan jalan memperbanyak dzikrullah, mengumandangkan ucapan Takbir dan Tahmid : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamd (Allah Maha Besar, Dia-lah yang berhak menerima puja dan puji). Sebagai puncaknya, kaum muslimin mengerjakan shalat Idul Fitri.

Yang kedua adalah membagi kegembiraan dengan mengulurkan tangan kepada orang-orang yang lemah, terutama anak yatim dan fakir miskin, dengan memberikan zakat fitrah kepada mereka. Zakat fitrah diwajibkan kepada setiap Muslim dan Muslimah, kecuali mereka yang tidak mampu, yang hanya mempunyai persediaan makanan di rumah.

Pada hari itu juga telah lazim bahwa setiap muslim saling mengunjungi satu sama lain dan saling memaafkan sehingga ikatan persaudaraan Islam akan semakin kuat. Tetapi satu hal yang kurang pada tempatnya, bahwa kita saling memaafkan justru pada akhir bulan Ramadhan. Padahal seharusnya hal ini kita lakukan sebelum/menjelang bulan Ramadhan sehingga kita dapat memasuki bulan Ramadhan dengan hati yang bersih.

Allahu’alam wassalamu’alaykum wr wb

Coming Soon!!!
PERSPEKTIF (Perjalanan Spiritual, Spektakuler, dan Kreatif)
MIT (MuSA Integrated Training)
Jaket MuSA *ayo, ikutan sayembaranya! ^^*

Buletin gARis edisi ke-4 [ver.02]
Bulan Oktober 2009 – Syawal 1430
Sektor Syi’ar Keluarga Besar Islam Arsitektur ITB

http://mediagaris.wordpress.com/


About this entry