Semangat Kepahlawanan dari Rasul Kita
Menghadapi tantangan
Sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw dalam menegakkan Islam selalu menghadapi rintangan dan tantangan yang berat. Semua itu dihadapinya dengan penuh keteguhan iman. Bahkan di saat menjelang ajal, Nabi masih sempat berwasiat kepada umatnya agar selalu tetap menjaga shalat dan ibadahnya. Dalam kepemimpinannya sebagai kepala negara, beliau menyatukan antara ucapan dan perbuatan. Nabi mencontohkan dahulu, setelah itu mengajak umat melakukan hal serupa.
Nabi memilih kehidupan yang wajar, apa adanya, bahkan segalanya diserahkan untuk Islam. Muhammad saw merasa takut kepada Allah swt bila dirinya berhidup mewah, sementara ummatnya hidup dalam kemelaratan. Bahkan Rasulullah terkenal dengan doa agar dalam kematiannya tergolong dalam kelompok orang-orang miskin. Allah mengabulkan, Nabi meninggalkan Al-Qur’an dan al-Hadits sebagai pegangan hidup keluarga dan umatnya.
Dalam menegakkan ketauhidan Islam, Rasulullah tegas. Kaum Quraisy suatu saat menawarkan kompromi kepada Rasulullah dalam urusan beribadah yakni pada suatu waktu Rasulullah menyembah berhala Quraisy, di waktu lain kaum Quraisy menyembah Allah. Rasulullah menolak dengan menyampaikan firman Allah swt, “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” (QS. Al Kafirun: 6) Namun sesama manusia harus saling menghormati, selama antar pihak tidak saling mengganggu dan saling memusuhi. Ketika Nabi menyiarkan dakwah Islam banyak yang tidak mengakui ajaranNya, meski begitu Nabi tetap menghormati mereka sebatas sesama manusia.
Dalam setiap pengambilan keputusan, Muhammad selalu bermusyawarah untuk menentukan kata mufakat dengan berpijak pada petunjuk Al-Qur’an. Apalagi untuk urusan-urusan keduniawian, yang bisa jadi ada orang-orang tertentu yang lebih memiliki keahlian. Ia selalu berpenampilan sederhana, mau mendengar pendapat umat serta menampung aspirasi mereka. Hubungan Nabi dengan sahabat-sahabatnya begitu manusiawi, penuh kasih dan saling pengertian.
Kekhawatiran Barat
Pakar dari Barat, Will Durrant menilai, Muhammad saw merupakan sosok nabi yang berhasil meningkatkan ruhani dan moralitas suatu bangsa dari kebiadaban. Dia membawa ajaran Islam dan menyebarkannya ke Barat dan ke Timur. Tak heran bila Michael H Hart, seorang cendekiawan AS menempatkan Muhammad saw sebagai tokoh urutan pertama di antara 100 tokoh dunia yang memiliki peranan besar dalam sejarah umat manusia. Dalam bukunya, The 100: A Rangking of The Most Influental Person in History, Hart menyebutkan:
“Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tetapi dialah satu-satunya orang yang sukses, baik dalam tataran sekuler maupun agama (hlm 33). Lamartine, seorang sejarawan terkemuka menyatakan bahwa: Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasilyang dicapai menjadi tolak ukur kejeniuisan manusia,; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad?
Tokoh-tokoh lain membangun pasukan, hukum, kerajaan saja. Mereka hanyalah menciptakan kekuatan-kekuatan material yang hancur, bahkan di depan mata mereka sendiri. Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tetapi juga jutaan manusia di dua pertiga wilayah dunias saat itu; lebih dari itu, ia telah mengubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa.
Kesabarannya dalam kemenangan dan ambisinya yang dipersembahkan untuk satu tujuan tanpa sama sekali berhasrat membangun kekuasaan, sembahyang-sembahyangnya, dialognya dengan Tuhan, kematiannya, dan kemenangan-kemenangan (umatnya) setelah kematiannya; semuanya membawa keyakinan umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan sebuah dogma. Dogma yang mengajarkan ketunggalan dan kegaiban (immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa sesungguhnya Tuhan. Dia singkirkan Tuhan palsu dengan kekuatan dan mengenalkan Tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan.
Seorang filsuf yang juga seorang orator, apostle, prajurit, ahli hukum, penakluk ide, pengembali dogma-dogma rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan, pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan spiritual, ialah Muhammad. Dari semua standar bagaimana kehebatan seorang manusia diukur, mungkin kita patut bertanya: adakah orang yang lebih agung dari dia?”
Dalam konteks kebangkitan kembali dunia Islam, Lothrop Stoddart mengatakan dunia Barat terkesan cemas terhadap kehadiran Islam setelah perang dunia II usai. Kendati dunia Islam dewasa ini mengalami pergolakan cukup hebat, umat Islam tersebar antara Maroko dan Tiongkok, antara Washington dan Kongo, bergolak menuju Islam satu ide yakni Islam yang nyata, Islam yang membumi dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan besar akan dirasakan oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini.
Paparan di atas memberikan penekanan bahwa sosok seperti itu masih terus relevan diikuti pada zaman ini dan mendatang. Apalagi melihat fenomena dekadensi moral, krisis figur dan krisis wibawa terjadi di mana-mana. Dan merupakan saat yang tepat bila pribadi Muhammad saw dijadikan sebagai acuan untuk menempuh kehidupan yang serba global ini. Jika pakar Barat terkagum-kagum pada pribadi Rasulullah saw, masihkah kita, sebagai umat mulim berpangku tangan tanpa ada upaya untuk meneladani beliau?
Mengenang kembali Rasulullah tidak sebatas memeriahkan acara ritual di setiap peringatan kelahiran beliau. Juga tidak cukup sebatas terkagum-kagum. Tapi hendaknya ada upaya penyelarasan tingkah laku, sesuai dengan ajaran mulia yang beliau bawa. Menjunjung tinggi akhlak mulia dan menyebarkanluaskan rahmat bagi seluruh alam.
Allahu’alam
About this entry
You’re currently reading “Semangat Kepahlawanan dari Rasul Kita,” an entry on Keluarga Besar Islam Arsitektur ITB
- Telah Diterbitkan:
- 25 Maret 2009 / 08:09
- Kategori:
- Dakwah gARis
No comments yet
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]